Karya: DITA (X Kimia Analisis 1)
Di
sebuah tempat dimana ada tanah yang sangat kaya tapi terhalang oleh
keterbatasan pengelolaan dan juga terbentengi oleh perbatasan Malaysia yang
membuat rakyat Indonesia sedikit terpengaruh kebudayaan nya. Disana terbentang
sungai yang indah dan ada seorang kakek dan anak cucu nya sedang mendayung
perahu kecil terbuat dari kayu tua sedang menceritakan perjuangan memperoleh
kemerdekaan Indonesia .
“Atok,
Salman dan Salinah berangkat sekolah dulu ke”
“Belajar yang rajin ya, agar
esok besar dapat membela Indonesia”
Salman
dan Salinah pun berangkat ke sekolah nya, sekolah kebanggaan nya yang terbuat
dari kayu tua dan hampir roboh, ruangan nya pun hanya satu petak di buat dua
kelas yang hanya di batasi kayu triplek tipis dan hanya di bina oleh satu Guru
perempuan bernama Bu Astutik.
“Anak-anak
sekarang kita berada di indonesia tepat nya di Kalimantan Barat daerah
perbatasan”
“Bu,
di mana rumah pak Kepala Dusun?”
Semua
tertawa....
“Kalau
di peta ini tak kelihatan ke”
Bu Astutik
pindah ke kelas dua
“Kemarin
Ibu memberi tugas membuat gambar bendera kita ke, warna merah putih. Sekarang
perlihatkan”
Bu Astutik
sangat terkejut ketika hampir semua bendera salah tapi hanya satu yang benar,
yaitu milik Salinah dan bendera itu di dirikan di depan sekolah mereka. Bel
tanda pulangpun berbunyi, saat nya semua anak-anak pulang. Salman mengantar Bu
Astutik membawa dagangan Bu Astutik di rumah Kepala Desa, karena di sana tempat
Bu Astutik berjualan.
“Ini untuk adik kau ya”, kata bu
astutik sambil memberikan botol sabun pembuat gelembung
“Untuk apa bu?”
“Tanya saja ke adik kau”
Setelah
itu Salman pulang ke rumah nya, dan segera menemuhi Salinah di hutan belakang
rumah nya
“Ni, dari Bu Astutik memang kau
tadi melakuan apa?”
“Aku bisa menggambar bendera
merah-putih”
“Dari mana kau tau?”
“Di beri tahu atok”
Salinah
dan Salman pun bermain gelembung pemberian Bu Astutik. Mereka sangat senang karena
gelembung-gelembung itu baru pertama kali ia dapatkan.
Sementara itu ayah Salman dan Salimah
datang dari Malaysia dan menceritakan panjang lebar tentang kesuksesan nya
usaha berjualan markisa yang sangat berkembang dan menguntungkan di Malaysia.
Sebenarnya ayah Salman dan Salimah pulang bermaksud untuk membawa anak nya ke Malaysia
dan hidup di sana karena pendapat ayah nya bahwa kehidupan di Malaysia lebih
baik dari pada Indonesia.
“Kau tak mengerti bahwa bangsa
ini begitu kaya, dan bisa membuat mu lebih bahagia dari pada di Malaysia”
“Tapi mengapa kita masih hidup
sengsara, dan pemerintahan Indonesia pun tidak memperdulikan kita, rakyat
perbatasan”
“Ini negara Indonesia, negara
berkembang,besar, dan kaya. Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk bisa
membuat rakyatnya sejahtera”
“Saya sudah punya istri di Malaysia”
Kakek
Salman pun hanya bisa diam tanpan kata-kata yang terungkap dan ayah Salman pun
tetap mempertahankan pendirian nya dan tetap merayu anak-anak nya agar mau ikut
dengan nya ke Malaysia dengan menceritakan bahwa di sana bisa membeli segalanya
yang kita inginkan.
Keesokan harinya ayah Salman
berniat membawa Salman dan Salinah pergi menuju Malaysia, tapi Salman menolak
nya karena tidak mau meningggalkan kakek nya sendirian di rumah karena kakeknya
sedang sakit keras dan tidak ada sanak saudara yang dapat menemaninya bila
kakek tiba-tiba jatuh sakit. Sementara itu Salinah ikut ayah nya pergi dan
tinggal di Malaysia, dan Salinah memberikan kenang-kenagan untuk kakak nya
yaitu pembuat balon yang di berikan Bu Astutik waktu Salinah dapat membuat
bendera Indonesia.
Sementara itu ada seorang dokter
yang baru datang dari jakarta untuk memenuhi panggilan tugas untuk jadi dokter
di perbatasan Indonesia dan Malaysia, dokter itu di sambut oleh teman salman
yang ingin membantunya membawa tas bawaan.
“Mau di bawa ke mana ke?”
“Tau rumah kepala Dusun?”
“Ya, satu,dua,tiga,.... semua
dua puluh”
“Iya, boleh tolong ya”
Teman
salman pun membantu pak dokter membawa barang bawaan nya menuju rumah kepala
Dusun, dan bertemu dengan Pak Kepala Dusun dan Bu Astutik. Setelah itu pak
dokter memberikan uang dua puluh ribu rupiah.
“Uang apa ini?”
“Dua puluh ribu rupiah kan?”
“Bu orang ini membohongi saya
bu”
“Anda ini intel ya?”
“bukan... saya ini dokter dari
jakarta”
“oh jadi orang ini dokter
bernama intel?”
Bu
Salimah pun mengganti uang yang di berikan dokter itu dengan dua puluh ringgit.
“Di sini tidak memakai uang
rupiah?”
“Di sini sudah terbiasa dengan
uang ringgit”
“Anda ini ibunya anak itu?”
“Bukan saya ini gurunya”
“Apa Anda tidak mengajarkan
nasionalisme?”
“Saya saja baru mengajar tiga
bulan disini”
Pak
Dokter itu pun masih tidak percaya kalau di daerah perbatasan tidak mengenal
uang rupiah. Sementara itu teman salman segera memanggil Kepala Dusun, dan
menyebutkan bahwa ada seorang pak dokter bernama Pak Intel. Pada saat itu cuaca
buruk disertahi petir yang menggelegar, dan pada beberapa saat kemudian ada
seorang yang mendatangin rumah Pak Kepala Dusun.
“Pak Dusun... Sofi sakit...
tolong Pak Dusun”
“Pak Intel, tolong bantu Sofi...
“
“Iya, ayo kita obati dia”
Setelah
sampai di tempat tujuan, betapa terkejutnya Pak Dokter, Pak Dusun, dan Bu
Astutik karena yang bernama sofi itu adalah seekor sapi bukanlah seorang
manusia. Pak Doter itu pun menolak mengobatinya meskipun di paksa oleh Pak
Dusun dan pemilik sapi tersebut, karena Pak Dokter itu hanya bisa mengobati manusia
bukan lah hewan.
Sementara itu kakek Salman
menceritakan tentang sejarah kemerdekaan indonesia sambil di pijat oleh Salman
dan tiba-tiba kakeknya terjatuh sambil memegangi dada bagian kirinya, Salman
langsung memberi minum kakeknya agar merasa tenang tapi tiba-tiba kakeknya
tidak sadarkan diri. Salman segera berlari menuju rumah Kepala Dusun untuk
meminta bantuan.
“Pak Dusun, ......”
“Ada apa?”
“Atok..”
“Ada apa dengan atok mu?”
“Atok sakit”
“Pak Dokter tolongin atok”
“Atok itu manusia kan?”
“Iya lah..”
Setelah
itu Pak Dusun, Pak Anwar, dan Salman pun segera menuju ke rumah Salman agar
kakek Salman segera di periksa dan di obati. Setelah sampai di rumah Salman dan
kakek Salman sudah di periksa.
“Pak dulu pernah di periksa di
dokter?”
“Belum, karena tidak punya uang
untuk berobatnya”
“Kalau begitu harus segera di
bawa ke Rumah Sakit, kalau tidak bisa lebih parah nanti”
“Berapa biaya nya Dok?”
“Ya sekitar 440 ringgit lah”
“Nanti biar saya antar ke Rumah
Sakit nya”
Pada malam harinya Dokter Anwar
menelephon ke Jakarka agar mengirimkan obat-obatan generic yang sudah semakin
menipis, tapi tidak semudah itu menelepon karena jaringan di sana sangat
rendah. Jangankan untuk telepon, liat Televisipun hanya satu untuk tontonan
semua warga di daerah perbatasan. Akhirnya Pak Anwar memutuskan untuk meminta
tolong Pak Dusun agar obat-obatan untuk penduduk daerah perbatasan.
“Halo.... ganti?”
“....tut....tut...”
“Halo bang...ganti...”
“Eh eneng....ganti..”
“Gimana bang kabarnya, ganti?”
Setelah
lama mengobrol berbelit- belit tak ada gunanya, Pak Dusun hanya mengobrol
urusan pribadinya dan tak mempedulikan Pak Anwar yang butuh persediaan
obat-obatan dari kota yangsemakin menipis.
Keesokan harinya Salman berfikir
bagaimana dia bisa memperoleh uang sebanyak itu dengan cepat, sampai-sampai ia
tidak bisa bermain dengan teman-teman. Sampai-sampai Salman bertanya kepada Bu
Astutik bagaimana cara memperoleh uang dengan cepat, tapi sayangnya Bu Astutik
tidak memberikan jawaban, dan Salman pun segera berlalu dari hadapan Bu
Astutik.
Setelah ia memikirkan cara
paling mudah yaitu menjual hasil tenun kain khas Kalimantan Barat ke Malaysia,
dan pada saat itu juga ia belajar membuat kain tenun dan menjualnya di Pasar
Malaysia. Pada saat di Pasar Malaysia dia sanggat terkejut ketika bendera
Indonesia digunakan untuk tatakan barang-barang dagangan.
“Ini kan merah putih”
“Iya, ini
merah,putih,hijau,.....”
“Ini kan bendera indonesia?”
“Saya tidak peduli ini alas
dagangan saya”
Sebenarnya
Salman tidak mau kalau bendera kebanggaan nya di rendahkan dengan begitu
mudahnya tetapi apa mau di kata kalau bendera itu hak milik penjual dari
Malaysia, setelah menjual kain tenunnya ia segera kembali ke rumah nya untuk
merawat kakeknya yang sedang sakit keras. Salman merasa tidak tega dengan
keadaan kakek nya yang sakit keras yang semakin parah sehingga Salman terus
berkerka keras menjual kain tenun di Malaysia tanpa sepengetahuan kakeknya.
Setiap hari Salman bangun di
pagi buta, saat kakeknya masih tertidur dan dia segera berangkat ke tempat kain
tenun agar bisa bekerja menjual hasil kain tenun ke Malaysia, selain bekerja
Salman juga berusaha untuk menemukan ayahnya dan adiknya karena ia ingin
memberitahu ayahnya kalau kakeknya sedang sakit dan harus di bawa ke Rumah
Sakit.
Hari demi hari Salman lalui
seperti biasa dan selalu bekerja keras agar kakeknya segera di bawa ke Rumah
Sakit dan menjalani perawatan di sana. Pada saat Salman baru pulang dari
Malaysia kakeknya tiba-tiba bangun dari tidurnya dan ingin berbicara dengan
Salman mengenai Ayahnya.
“Salman kau ingin tahu di mana
ayahmu sekarang?”
“Iya kek, memang kakek tahu di
mana ayah sekarang?”
“Ini nak...”, sambil memberikan
selembar kertas tipis yang berisi alamat dimana ayahnya tinggal
“Kek, bolehkah saya ke sana ?
“Iya, tapi kau harus hati-hati
ya nak”
Keesokan harinya Salman bergegas
mempersiapkan diri untuk pergi ke Malaysia menuju rumah ayahnya. Salman mencari
dan mencari alamat ayahnya dengan bertanya pada orang sekitar sambil menjual
kain tenunnya dan mengantarkan pesanan kain tenun, sampai ia hampir menyerah
mencari alamat ayahnya tapi ia tetap tak menyerah sampai ia hanya pasrah
berjalan tanpa arah. Dan kemudian ia melihat kumpulan gelembung-gelembung kecil
yang mengingatkan ia kepada adiknya yaitu Salinah,ia menghampirinya dan tak
terduga ia bertemu adik nya Salinah.
“Salinah..”
“Bang Salman..”
“Abang rindu lah sama kau..”
“Salinah pun juga..”
“Di mana Ayah”
Salinah
pun bergegas memberitahu Kakak nya di mana rumah yang dia tempati selama ini
dan hal yang tak terduga rumahnya sederhana tapi mewah untuk salman, sementara
Salman masih terkagum-kagum Salinah memanggil ayahnya. Dan beberapa saat
kemudian datanglah ayahnya bersama dengan seorang perempuan berbadan besar dan
berumur sekitar lima puluh tahun sedang menggandeng ayahnya dengan mesrah
seperti sepasang suami istri.
“Salman...”
“Ayah, dia nenek Salman ?”
(Si
perempuan itu langsung marah dan menuju kamarnya sambil marah-marah menggunakan
logat Malaysia asli)
“Salman itu Ibu mu bukan nenek
mu..”
“Tapi dia lebih pantas jadi
istrinya kakek”
“Hush.. kamu ini ngawur”
Setelah
itu salman menceritakan keadaan kakek yang sedang sakit parah dan harus segera
di obaati di Rumah Sakit dan harus mengeluarkan biaya yang sangat besar karena
harus di rawat di Rumah Sakit. Setelah Salman menbceritakan panjang lebar
mengenai kakek nya, ayah salman menuju kamar di mana ibu tiri nya memasuki
ruangan itu tadi. Seetelah beberapa saat menunggu beberapa saat ayah nya dan
isrinya pun ndatang menghampiri Salman dan adik nya.
“Kau ingin kakek mu sembuh ke?”
“Iya, saya ingin kakek saya
sembuh”
“Saya mau membantu kakaekmu,
tapi kakekmu harus di bawa ke Rumah Sakit di Malaysia!”
Salman sadar betul bahwa
kakeknya pasti akan menolak bila harus dirawat di Malaysia karena kakeknya
tidak suka atau bisa di bilang anti dengan segala macam mengenai Malaysia yang
menyimpan cerita pahit tentang ia dan seorang perempuan yang ia cintai. Tapi
Salman meminta waktu untuk bisa membujuk kakeknya agar mau di bawa ke Malaysia.
Setelah ia sampai di rumahnya,
ia langsung menghampiri Kakeknya dan membicarakan tetang kejadian apa yang ia
alami selama ia mencari ayahnya di Malaysia dan betapa terkejudnya kakeknya
mendengar bahwa ia harus di rawat di Malaysia, tiba-tiba penyakit kakeknya
kambuh dan ia segera berlari menuju rumah Pak Anwar untuk segera memeriksa
kakeknya.
“Salman, Kakekmu harus segera di
bawa ke Rumah Sakit “
“Pak Dokter tolong tunggu kakek
sebentar ya?”
“Kau mau kemana?”
“Ke ayah”
“Mau apa kau?”
Salman
tidak sempat menjawabnya dan langsung pergi menuju rumah ayahnya tanpa
memperdulikan kegelapan malam yang dinginnya menusuk tulang secara
bertubi-tubi. Setelah beberapa saat Salman sudah sampai di rumah ayahnya dan
langsung mengetuk pintu Rumah itu keras-keras, dan beberapa saat kemuadian ayahnya
membukakan pintunya.
“ayah.. kakek yah..!”
“ Ada apa dengan kakek ?”
“Penyakit kakek kambuh yah, kata
dokter harus segera di bawa ke rumah sakit yah!”
Tanpa
berkata-kata lagi ayah nya segera memanggil istrinya dan segera menuju
garasinya untuk mengambil mobil menuju rumah Kakek agar bisa membawa kakek ke
Rumah Sakit. Ayah Salman pun mengemudi sangat cepat dan akhirnya sampai di
rumah kakek dan segera membopong kakek menuju Rumah Sakit di Malaysia, tapi ada
yang aneh dengan sikap istri ayah nya Salman yang bernama Bintang.
Keesokan harinya Atok terbangun
dan menyadari diri nya kalau berada di sebuah Rumah Sakit yang sangat mewah dan
dia tahu bahwa dia bukan di Rumah Sakit Indonesia melainkan di Malaysia dan ia
melihat seorang perempuan yang sudah tiga puluh tahun tidak ia lihat yang
selalu ia rindukan.
“Bintang ku yang selalu
menyinariku di kala hati ini gundah,sedih, dan merasa putus asa..”
“Apakah kita saling mengenal?”
“Apa kau tak ingat aku. Aku
Rasyid..!”
“Aku tak mengenal mu!”
“Mengapa kau tak ingat
perjuangan kita tiga puluh tahun yang lalu?”
“Saya benar-benar tidak mengenal
anda..!”
“Lalu mengapa anda masih ada di
sini ?”
“Saya adalah isrtri anak
bapak..!”
“Apa benar nak?”
“iya pak benah. Memang apa yang
bapak sembunyikan dari saya?”
Kakek
pun hanya terdiam seribu bahasa, dia kembali mengingat kejadian tiga puluh
tahun yang lalu dimana pada masa peperangan indonesia-jepang dimana kakek
adalah seorang prajurit yang sangat berpengaruh bagi kemenangan indonesia dalam
merebut kemerdekaan yang seutuhnya dan Bintang adalah seorang suster yang
mengobati korban perang. Pada saat itu Rasyid tertembak di Medan Perang dan
pada saat itulah Bintang menolongnya dengan cekatan sementara Rasyid melihat
nya tanpa berkedib sedikit pun karena terpesona dengan kecantikan orang yang
selalu mengobatinya dan menemaninya selama peperangan berlangsung . Bintang
adalah sosok yang sangat mendukung keberhasilan Rasyid untuk memenangkan
peperangan yang sangat menegangkan, dan kenang-kenangan itu berakhir ketika Bintang
menemani ayahnya untuk menemani ayahnya yang lebih memilih Malaysia dari pada
Indonesia dan Rasyid menerima kabar kalau Bintang telah di jodohkan oleh
seorang pemuda di Malaysia.
Keesokan
harinya kakek meminta pulang dari Malaysia karena merasa tak betah dan merasa
sakit hati oleh sosok Bintang, ayah salman pun menurutinya. Dan perjalanan pun
tak berlangsung lama, sementara itu Bintang tiba-tiba meneteskan air mata
ketika sampai di perbatasan Indonesia-Malaysia.
“Cinta
kita tak kan terhapus meskipun seribu Ranjau menghalangi “, Kakek dan Bintang
saling bersamaan
“apa
yang terjadi?” (ayah Salman terkejud)
Bintang akhirnya mengungkapkan apa yang
terjadi yang sebenar- benarnya kepada ayah Salman, ayah Salman pun hanya diam
termenung dan memutuskan untuk bercerai dengan Bintang karena merasa tak
sanggup bersama dengan belahan hati ayahnya sendiri. Setelah itu kakek dan
Bintang memutuskan untuk menikah dan membuat sebuah sekolah yang sangat megah
dan sebuah puskesmas selain itu Bintang memutuskan untuk pindah kewarnegaraan
Indonesia.
Sekaran
di daerah perbatasan banyak bendera merah putih dan juga banyak perpustakaan
yang membuat anak-anak perbatasan lebih bisa mengenal Indonesia lebih jauh dan
mulai memakai mata uang Indonesia, tidak hanya itu jaringan disana pun di
perkuat jaringan nya dan bisa menggunakan internet dengan mudah. Sekarang ayah
Salman menikah dengan orang Indonesia sedangkan pak Anwar menikah dengan Bu
Astutik dan mendirikan sekolah untuk lebih mengenal kebudayaan Indonesia.
Komentar
Posting Komentar
Kirim pesan terbaik Anda untuk pengembangan situs ini!