Sejarah Es Potong


Kita kupas sejarah dan sedikit “rahasia dapur” dari es potong—jajanan nostalgia yang bikin banyak orang senyum waktu mengingat masa kecil.

Asal-usul di Asia Tenggara

Es potong diperkirakan mulai populer pada awal abad ke-20 di kawasan Asia Tenggara, terutama Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Konsepnya sederhana: es berbentuk balok yang dipotong-potong lalu disajikan di tusuk kayu.


Pengaruh Kolonial

Pada masa kolonial, pembuatan es mulai mudah karena masuknya teknologi pembuat es dari Eropa. Pedagang Tionghoa di pelabuhan-pelabuhan besar seperti Batavia (Jakarta) dan Surabaya ikut berperan menyebarkan jajanan ini, menyesuaikannya dengan rasa lokal seperti kacang hijau, ketan hitam, dan santan.

Era 1960–1980-an

Di Indonesia, es potong menjadi ikon jajanan sekolah. Penjualnya sering bersepeda atau mendorong gerobak, memanggil anak-anak dengan bunyi bel khas.


Rahasia di Balik Pembuatan Es Potong

1. Rasio Gula dan Lemak yang Pas

Campuran gula dan santan/susu harus seimbang—terlalu sedikit gula membuat es cepat keras, terlalu banyak membuatnya sulit membeku sempurna.

2. Aduk Saat Membeku

Agar tekstur tidak berbutir es kasar, campuran biasanya diaduk perlahan di tahap awal pembekuan. Pedagang tradisional kadang menggunakan cetakan logam dalam es batu dan garam (untuk menurunkan titik beku).

3. Gunakan Bahan Alami

Warna-warna khas es potong jadul berasal dari bahan alami: hijau dari daun pandan, cokelat dari cokelat bubuk atau gula merah, ungu dari ubi.

4. Trik Potongan Rapi

Pisau harus direndam sebentar di air panas sebelum memotong, supaya es tidak retak atau hancur.

5. Kombinasi Unik

Di beberapa daerah, es potong disajikan dengan roti tawar atau biskuit marie—memberi tekstur kontras dan membuatnya lebih mengenyangkan.

Ilustrasi: dokumen pribadi

Komentar