Perspektif Wajah Bumi Satu Dekade ke Depan


Berikut potret ringkas—namun komprehensif—tentang kondisi Bumi dalam ±10 tahun ke depan (sekitar 2035), mencakup kepadatan penduduk, kondisi alam, kebersihan, risiko yang dihadapi manusia, dan solusi bernas berbasis literatur tepercaya.

1) Kepadatan penduduk & urbanisasi

Pada 2035, populasi dunia diproyeksikan masih bertambah dibanding 2025, meski laju pertumbuhan melambat. Perkiraan PBB (World Population Prospects/WPP) menunjukkan tren menuju hampir 9 miliar jiwa di pertengahan 2030-an (varian menengah), dengan pertumbuhan yang makin terkonsentrasi di Afrika Sub-Sahara dan sebagian Asia Selatan. Artinya, bukan hanya “berapa banyak”, melainkan “di mana” manusia tinggal yang paling menentukan tekanan pada ruang hidup dan layanan dasar. 

Urbanisasi terus menguat. Sekitar awal 2030-an, lebih dari 60% penduduk dunia tinggal di kawasan perkotaan; pada 2035 jumlahnya diperkirakan sekitar 5,6 miliar orang yang hidup di kota-kota—dengan megapolitan di Asia dan Afrika tumbuh paling cepat. Konsekuensinya: kebutuhan hunian terjangkau, transportasi massal, air bersih, sanitasi, dan pengelolaan sampah kian mendesak. 

2) Kondisi alam & iklim

Secara ilmiah, periode 2030-an adalah “dekade kritis”. Laporan Sintesis IPCC AR6 menegaskan bahwa pemanasan global berpeluang besar menyentuh sekitar 1,5 °C di awal 2030-an, bahkan jika ambisi iklim ditingkatkan; artinya, cuaca ekstrem yang kini kita rasakan menjadi lebih sering dan intens pada 10 tahun ke depan. Gelombang panas lebih panjang, curah hujan ekstrem lebih lebat, kekeringan lebih parah, dan kenaikan muka laut terus berlangsung. 

Seberapa panas dunia pada akhir abad ini bergantung pada kebijakan dekade ini. Evaluasi UNEP “Emissions Gap” menunjukkan bahwa jika dunia hanya menjalankan janji (NDC) saat ini tanpa penguatan berarti, kita berada di lintasan pemanasan sekitar 2,5–2,9 °C; kebijakan yang benar-benar “bisnis seperti biasa” bahkan mendekati ~3 °C. Konsekuensi pada 2035 sudah terasa: risiko banjir bandang, kebakaran hutan, gagal panen, dan gangguan infrastruktur meningkat. 

3) Kebersihan lingkungan: udara, air, dan sampah

Udara: 

WHO memperbarui fakta bahwa pada 2019 sekitar 99% populasi dunia hidup di tempat yang tidak memenuhi panduan mutu udara WHO. Artinya, pada 2035—kecuali ada lompatan kebijakan—paparan PM2.5 dan NO₂ masih menjadi ancaman besar, terutama di kota-kota berpenduduk padat di negara berpendapatan menengah. Dampaknya bukan hanya penyakit paru dan jantung, tetapi juga produktivitas dan biaya kesehatan. 

Air: 

Tekanan terhadap air—khususnya di kawasan beriklim kering dan wilayah sungai yang padat industri/irigasi—akan meningkat. Data WRI Aqueduct menunjukkan banyak negara sudah berada pada kategori “tekanan air sangat tinggi”; tanpa intervensi, proporsi ekonomi dan penduduk yang terekspos stres air akan naik lagi menuju 2050, sehingga 2035 adalah “mendaki” ke risiko yang lebih besar. Dalam praktiknya, kota-kota akan makin mengandalkan desalinasi, daur ulang air limbah, dan pengelolaan permintaan (demand management). 

Sampah & plastik: 

Volume sampah padat perkotaan global masih tumbuh seiring urbanisasi. Proyeksi World Bank “What a Waste 2.0” memperlihatkan tren menuju ~3,4 miliar ton per tahun pada 2050 jika pola konsumsi dan sistem pengelolaan tidak berubah; pada 2035, tanpa reformasi, beban layanan dan risiko pembuangan terbuka masih berat. Khusus plastik, UNEP memperingatkan kebocoran 19–23 juta ton per tahun ke ekosistem perairan—angka yang berpotensi naik tajam sebelum 2040 tanpa kebijakan yang membatasi produksi, mendesain ulang kemasan, dan membangun sistem daur ulang sirkular. 

4) Risiko utama untuk manusia di 10 tahun ke depan

(a) Risiko iklim & bencana hidrometeorologi. Kombinasi pemanasan ~1,5 °C, urbanisasi pesisir, dan perubahan pola hujan berarti kejadian banjir, panas ekstrem, topan/angin ribut, dan kebakaran lahan lebih merugikan. Infrastruktur kritis (listrik, air minum, logistik pangan) menghadapi gangguan yang lebih sering, dan penduduk rentan (lansia, anak-anak, pekerja informal) menanggung beban paling besar. 

(b) Kualitas udara & kesehatan.

Tanpa dekarbonisasi energi/transportasi dan pengendalian polusi industri, jutaan kematian dini tiap tahun akibat polusi udara akan berlanjut; biaya ekonomi (absensi kerja, penyakit kronis) membengkak. 

(c) Stres air & pangan. 

Persaingan air antarsektor (domestik, pertanian, industri, energi) meningkat. Ketika kekeringan menghantam lumbung pangan atau banjir melanda sentra produksi, harga pangan bergejolak dan ketahanan nutrisi kota miskin terdampak. 

(d) Degradasi keanekaragaman hayati. 

IPBES memperkirakan hingga satu juta spesies terancam punah dalam beberapa dekade jika pendorong kerusakan (perubahan tata guna lahan, eksploitasi berlebih, polusi, perubahan iklim, spesies invasif) tidak dikendalikan. Pada 2035, layanan ekosistem (penyerbukan, perlindungan pesisir, siklus air) makin tertekan. 

5) Solusi prioritas yang realistis (2025–2035)

1. Dekarbonisasi energi & efisiensi.

Prioritas mutlak: 

(i) percepatan adopsi energi terbarukan di jaringan (surya, angin, hidro berkelanjutan, panas bumi) dengan tata kelola perizinan yang dipangkas dan jaringan transmisi yang diperluas; 

(ii) penghentian bertahap PLTU batubara yang paling tua/tidak efisien disertai skema transisi adil (just transition) untuk pekerja dan daerah penghasil; 

(iii) elektrifikasi penggunaan akhir (transportasi, pemanas, proses industri ringan) ditopang efisiensi peralatan/bangunan. Ini tidak hanya menurunkan emisi gas rumah kaca, tetapi juga polusi udara lokal dan biaya kesehatan. Sasaran kebijakan sejalan dengan lintasan IPCC/UNEP untuk menutup “emissions gap” sebelum pertengahan 2030-an. 

2. Tata kota kompak, hijau, dan tahan iklim.

Kota 2035 akan menjadi “ruang hidup utama” umat manusia; maka perencanaan ruang berbasis transit (TOD), jalur pejalan kaki & sepeda, standar bangunan hemat energi, atap/dinding hijau, dan ruang biru-hijau (taman, waduk retensi, koridor sungai) harus dinormalisasi. Solusi berbasis alam (NbS)—seperti restorasi mangrove di pesisir atau hutan kota—mampu meredam banjir, panas, dan memperbaiki kualitas udara dengan biaya yang kompetitif dibanding betonisasi. Investasi ini juga meningkatkan kualitas hidup (livability) dan nilai ekonomi kawasan. (Rujukan umum: praktik terbaik WRI/IEA/UN-Habitat; selaras rekomendasi efisiensi bangunan dan perencanaan kota berketahanan). 

3. Revolusi air: dari “ambil-pakai-buang” ke sirkular.

Garis besar agenda 2035:

(i) kurangi kebocoran jaringan air minum; 

(ii) atur permintaan (tarif bertingkat, insentif peralatan hemat air); 

(iii) tingkatkan daur ulang air limbah untuk keperluan industri/irigasi; 

(iv) lindungi daerah tangkapan air (catchment) melalui rehabilitasi hutan dan tata guna lahan;

(v) gunakan desalinasi berbasis energi terbarukan di wilayah kering. Instrumen data seperti WRI Aqueduct membantu pemda/industri memetakan risiko dan memprioritaskan investasi. 

4. Udara bersih sebagai kebijakan kesehatan publik.

Targetkan standar mutu udara yang selaras WHO, inventaris emisi yang akurat, dan rencana aksi lintas sektor: 

transisi transportasi umum listrik; 

zona emisi rendah di pusat kota; 

standar emisi industri; 

pengendalian pembakaran terbuka & kebakaran lahan; 

serta program kompor bersih untuk rumah tangga rentan. 

Manfaatnya langsung: penurunan kunjungan IGD, absen sekolah/kerja, dan kematian dini. 

5. Ekonomi sirkular & tata kelola sampah modern.

Prioritas 2025–2035: 

(i) cegah sampah dari desain produk (reduce, redesign, reuse/refill); 

(ii) perluas tanggung jawab produsen (EPR) dan sistem deposit-return; 

(iii) bangun infrastruktur pemilahan, daur ulang, kompos, dan TPA saniter; 

(iv) formalkan pekerja pemulung (waste pickers) ke dalam sistem dengan perlindungan sosial; 

(v) kebijakan pengurangan plastik sekali pakai & microplastics. Ini terbukti menekan kebocoran 19–23 juta ton plastik per tahun dan menghindari lintasan “3,4 miliar ton sampah” di paruh abad. 

6. Melindungi keanekaragaman hayati & jasa ekosistem.

Capai target perlindungan 30% daratan & perairan (30×30) melalui kawasan lindung yang dikelola efektif dan konektivitas koridor satwa; hapus insentif yang mendorong deforestasi/konversi habitat; kendalikan spesies invasif; dan laksanakan pertanian regeneratif/agroforestri. Manfaatnya berantai: ketahanan pangan, mitigasi/adaptasi iklim, dan stabilitas ekonomi pedesaan. 

7. Pendanaan & tata kelola.

Kunci implementasi adalah skala dan kecepatan: tender energi terbarukan & efisiensi dalam portofolio pembiayaan publik-swasta, green bonds, blended finance untuk infrastruktur kota/air/sampah, serta transfer teknologi. Kebijakan harus melindungi kelompok rentan (tarif sosial, subsidi tepat sasaran, pelatihan ulang pekerja sektor fosil) agar transisi berkeadilan.

Referensi

UN DESA – World Population Prospects (portal resmi). 

Destatis (mengutip UN): penduduk perkotaan ~5,6 miliar pada 2035. 

IPCC AR6 (ikhtisar dekat-waktu 1,5 °C awal 2030-an). 

UNEP Emissions Gap Report (lintasan 2,5–2,9 °C jika janji saat ini). 

WHO Fact Sheet—Ambient Air Pollution (99% populasi pada 2019 tidak memenuhi panduan). 

WRI Aqueduct—tekanan air kini & proyeksi 2050 (implikasi 2030-an). 

World Bank—What a Waste 2.0 (tren 3,4 miliar ton pada 2050). 

UNEP—Plastic Pollution (kebocoran 19–23 juta ton/tahun). 

IPBES Global Assessment (hingga 1 juta spesies terancam).

Ilustrasi: chatgpt

Komentar