Taburan bubuk kayu manis dan kismis menjadi topping tertinggi. Lembutnya kelapa muda menambah sensasi gurih dan tekstur creamy. Sempurna.
Satu sendok.
Dua sendok.
Setengah box kecil berukuran 10 x 10 centi meter tandas dalam waktu kurang dari tiga puluh menit. Dilumat habis hingga ukuran suapan terakhir. Rasanya menggigit. Meninggalkan empati hati dan ruang bernama nyaman di lidah. Dingin di perut.
---
Kawanan semut mendekat. Rupaya mereka menangkap juga aroma manisnya. Berbaris mengitari box sisa makanan. Bergandengan membentuk lingkaran, mengendus, dan terus berjalan beriringan. Berjalan di tempat. Berbahagia setengah bersedih. Mendapat berkah sekaligus susah. Makanan manis di hadapan namun tak tergapai. Mereka suka manis, tapi bukan kayu manis.
Manis yang menyesatkan kawanan semut. Aroma manis yang kuat menutup dan merusak jejak feromon yang mereka andalkan untuk menyusuri jalan dan kembali ke sarang mereka.
"Bagaimana Saudara? Bisakah kita sikat?"
Tanya komandan semut.
"Belum. Kita bisa kehilangan feromon dan mati di tengah jalan karena tidak bisa kembali pulang."
Jawab sang prajurit.
"Kita tetap akan mati. Mati karena lapar atau mati karena tak bisa pulang."
Sang komandan memberi pilihan sulit.
"Lantas bagaimana? Kita terjang sajakah? Bagaimana , Komandan?"
Prajurit lantang menjawab tanpa bubar dari barisan. Menunggu aba-aba dan komando dari pemimpin tertinggi.
"Kita harus tetap bersatu. Jangan lepas ikatan. Kuatkan sisa feromon agar kita bisa kembali pulang pada Sang Ratu."
Sang komandan memberi aba-aba lantang.
"Baik komandan. Kapan kita maju?!"
Jawab prajurit.
"Sekarang!!!!"
Komandan meneriakkan perintah jalan menuju ke titik tertinggi klappertart.
Perjuangan di antara manis dan mati. Basah dan lengket gula, keju, telur dan bahan lainnya membuat para prajurit tak tahan. Jilatan pertama. Harum, manis.
"Jangan!!! Hentikan!!! Jangan makan dahulu. Kita bawa remah semampunya ke sarang!!"
Komandan masih berteriak. Tak menggubris.
Jilatan kedua, ketiga dan seterusnya. Merenangi lautan makanan surga. Tak peduli jejak feromon telah tertelan aroma kayu manis. Hilang jejak.
"Stoppp!!!"
Kendali tak lagi dimiliki sang komandan. Hampir sembilan prajurit telentang setengah pingsan karena kekenyangan. Mereka tak sadar telah membenamkan diri dalam lautan manis yang membunuh.
Komandan tak bisa berbuat apa-apa. Hanya mampu memandangi anak buahnya mati diam-diam tanpa sadar. Dalam kenyang yang terlalu. Hingga saat mereka sadar, tubuh mereka telah hanyut dalam balutan gula. Terlambat. Komandan telah kehilangan feromon dan kesempatan mencicip manisnya. Tak kenyang pun tak bisa kembali ke sarang sekaligus rumahnya.
Ilustrasi: chatgpt

Komentar
Posting Komentar
Kirim pesan terbaik Anda untuk pengembangan situs ini!