Banyak siswa SMK yang masih memandang pendidikan sebagai rutinitas tanpa jiwa. Mereka datang ke kelas, menyelesaikan tugas, lalu pulang, tanpa benar-benar menghayati apa yang sedang mereka bangun dalam dirinya. Ini bukan sepenuhnya kesalahan siswa. Sistem pendidikan yang masih menekankan capaian akademik dibandingkan proses pembentukan karakter dan kesadaran, turut menyumbang pada cara pandang tersebut.
Di sinilah peran guru dan lingkungan sekolah menjadi sangat vital. Guru tidak cukup hanya mentransfer pengetahuan. Ia harus menjadi fasilitator kesadaran. Misalnya, dalam pembelajaran praktik kejuruan, guru dapat mengaitkan kegiatan sehari-hari di dapur, bengkel, atau studio, dengan nilai-nilai kehidupan: kedisiplinan, kerja tim, integritas, bahkan empati. Dengan cara ini, siswa akan memahami bahwa keterampilan yang mereka pelajari bukan sekadar untuk industri, melainkan juga untuk membentuk jati diri.
Salah satu pendekatan yang efektif adalah pembelajaran reflektif. Siswa diajak bertanya: "Apa yang saya pelajari hari ini?" "Bagaimana hal itu mengubah cara pandang saya terhadap dunia?" atau "Apa manfaatnya bagi hidup saya dan orang lain?" Pertanyaan-pertanyaan ini sederhana, tetapi mampu menggugah kesadaran bahwa belajar bukan aktivitas pasif, melainkan dialog antara siswa dan realitas.
Kesadaran belajar juga akan tumbuh jika sekolah membuka ruang untuk pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Misalnya, siswa teknik otomotif tidak hanya belajar membongkar mesin, tetapi juga memahami bagaimana teknologi ramah lingkungan bisa membantu menanggulangi krisis iklim. Siswa tata boga tidak hanya memasak, tapi belajar tentang keamanan pangan, kearifan lokal, bahkan kewirausahaan sosial.
Lebih jauh, pendidikan kejuruan seharusnya tidak hanya menyiapkan tenaga kerja siap pakai, tetapi juga warga negara yang berpikir kritis dan peduli pada masa depan. Dunia kerja memang penting, tapi kehidupan jauh lebih luas dari sekadar pekerjaan. SMK perlu menjadi tempat pembibitan harapan dan kesadaran bahwa setiap siswa berhak merancang hidupnya sendiri, bukan sekadar mengikuti cetakan industri.
Kesadaran belajar adalah awal dari pendidikan yang memerdekakan. Bukan semata-mata bebas dari kebodohan, tetapi bebas untuk berpikir, memilih, dan bertanggung jawab atas pilihan hidup. Pendidikan menengah dan kejuruan akan menemukan maknanya jika mampu menanamkan semangat ini.
Karena pada akhirnya, bukan ijazah atau nilai yang paling penting, tetapi bagaimana siswa mampu menemukan makna dalam proses belajarnya — dan membawa makna itu dalam kehidupan nyata.
Ilustrasi: chatgpt

Komentar
Posting Komentar
Kirim pesan terbaik Anda untuk pengembangan situs ini!