Musik 90-an


Siapa yang tak mengenal lagu-lagu yang diciptakan di tahun 90-an dan tetap hits di abad 21. Hal ini bisa dijelaskan dari berbagai sudut pandang musik dan psikologi. Berikut ini beberapa alasan utamanya:

1. Kekuatan Melodi dan Lirik yang Abadi

Lagu-lagu 90-an umumnya mengandalkan hook melodius yang kuat dan lirik yang emosional atau sederhana tapi dalam. Misalnya, lagu-lagu seperti "Tears in Heaven" (Eric Clapton) atau "Kangen" (Dewa 19) mudah diingat dan menyentuh perasaan lintas generasi.

2. Produksi Musik yang Organik dan Tidak Terlalu “Digital”

Era 90-an adalah masa transisi antara rekaman analog ke digital. Banyak lagu masih direkam dengan alat musik asli, menghasilkan nuansa yang hangat dan manusiawi—berbeda dari sebagian besar musik modern yang serba elektronik dan “rapih secara komputer”.

3. Efek Nostalgia

Secara psikologis, lagu-lagu dari masa muda (terutama usia 13–25 tahun) membentuk memori emosional yang kuat. Generasi yang tumbuh di 90-an kini menjadi orang dewasa yang memutar lagu-lagu lama untuk mengenang masa indah. Hal ini memicu regenerasi ketenaran lagu-lagu tersebut.

4. Pengaruh Media Sosial dan Film/Serial

Lagu-lagu 90-an sering muncul di film, iklan, TikTok, atau YouTube. Anak muda yang awalnya tidak tahu lagu itu jadi tertarik karena konten viral atau soundtrack nostalgia. Contohnya: “Kiss Me” – Sixpence None the Richer sering kembali populer karena dipakai ulang di film/series.

5. Siklus Tren Musik

Industri musik sering bergerak dalam siklus. Gaya produksi dan sound 90-an—seperti R&B klasik, grunge, atau pop jernih—kembali digemari karena memberi “rasa segar” dibanding tren musik masa kini yang kadang terlalu cepat berubah.

Ilustrasi: Chatgpt

Komentar