Klasik dengan "Si Tua"


Fenomena Gen Z yang gemar menggunakan motor tua bukan sekadar soal gaya, tetapi mencerminkan dinamika psikologis yang dalam. Generasi ini tumbuh dalam era digital yang serba cepat, seragam, dan instan—sehingga muncul kebutuhan akan identitas yang autentik dan berbeda.

Dari sudut pandang psikologi identitas, motor tua menjadi simbol ekspresi diri. Mengendarai Vespa klasik atau motor 2-tak bukan hanya soal kendaraan, tetapi tentang pernyataan: "Ini aku, dan aku tidak sama dengan yang lain." Hal ini memperkuat self-concept mereka di tengah tekanan sosial untuk selalu mengikuti tren.

Selain itu, motor tua menawarkan tantangan. Ia tidak mudah dikendarai atau dirawat, sehingga memberi ruang bagi Gen Z untuk belajar, bereksperimen, dan membangun rasa percaya diri. Inilah bentuk self-efficacy—keyakinan bahwa mereka mampu mengatasi hambatan sendiri.

Motor tua juga membuka pintu bagi koneksi sosial. Komunitas motor klasik menjadi wadah relasi yang hangat dan mendalam, yang sangat dibutuhkan oleh generasi yang kerap merasa kesepian meski terhubung secara digital.

Terakhir, media sosial memperkuat fenomena ini. Estetika retro dan nuansa nostalgia yang dihadirkan motor tua sangat cocok untuk dikemas dalam visual sinematik, membentuk norma sosial baru: motor tua itu keren.

Motor tua, bagi Gen Z, bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah bentuk resistensi halus, simbol pencarian makna di tengah dunia yang terlalu cepat berubah.

Ilustrasi: Pribadi

Komentar