Takbir di Langit Pesantren


Takbir menggema di langit pesantren Nurul Hikmah. Malam Iduladha menjelang, dan suara bedug bertalu-talu bersahutan dengan suara santri yang melantunkan takbir. Yazid menatap langit dari balik jendela kamarnya. Di luar, lentera-lentera kecil tergantung di sepanjang serambi, mengingatkannya pada malam-malam lebaran di masa kecil bersama orangtuanya.

Tapi sejak lima tahun lalu, semua itu hanya tinggal kenangan. Ayahnya wafat dalam kecelakaan saat perjalanan pulang kerja. Setahun berselang, ibunya menyusul karena komplikasi penyakit yang tak tertangani. Sejak saat itu, Yazid menjadi yatim piatu. Hidupnya berputar di antara panti asuhan dan pesantren, dua tempat yang memberikan atap tapi tak selalu mampu menenangkan hatinya.

“Yazid,” suara lembut menyapanya dari pintu. Azzahra berdiri di sana, mengenakan mukena putih dengan bordiran biru. “Ustazah memanggil kita ke aula. Mau mulai latihan drama kurban.”

Yazid mengangguk, menahan nafas sejenak. Azzahra, santri kelas akhir yang juga yatim sejak kecil, adalah teman berbagi kisah senasib. Mereka dipasangkan dalam pertunjukan kecil yang akan ditampilkan besok pagi, sebagai bagian dari perayaan Iduladha. Drama itu mengangkat kisah Nabi Ibrahim dan Ismail, tentang keikhlasan dan pengorbanan.

Di aula, para santri lain sudah berkumpul. Ustazah Laila mengatur posisi panggung seadanya. Azzahra akan memerankan Hajar, sementara Yazid menjadi Ismail. Peran yang awalnya terasa sederhana, mulai menyentuh hatinya ketika latihan dimulai.

“Ismail, ayahmu mendapat perintah dari Allah. Kau tahu apa itu?” tanya Azzahra dalam latihannya, matanya menatap lurus ke arah Yazid.

“Aku tahu, Ibu. Dan aku ikhlas,” jawab Yazid, suaranya lirih tapi menggigil. Kalimat itu menampar perasaannya sendiri. Ia terdiam sejenak.

“Yazid?” Azzahra menatapnya bingung.

“Aku cuma... merasa aneh. Apa mungkin Ismail benar-benar setenang itu, saat tahu dirinya akan dikorbankan?” gumam Yazid, setengah bertanya pada diri sendiri.

Azzahra duduk di sampingnya. “Mungkin karena dia percaya. Sama ayahnya. Sama Tuhannya.”

Yazid menunduk. “Kadang aku sulit percaya. Kenapa Allah ambil semua yang aku punya, kalau Dia sayang padaku?”

Azzahra menatap langit-langit aula. “Aku dulu juga marah. Waktu kecil, aku pikir Allah jahat. Tapi waktu tinggal di pesantren, aku mulai lihat banyak hal lain yang kudapat. Teman, ilmu, bahkan kekuatan untuk memahami kehilangan.”

Sunyi sebentar. Yazid menatap Azzahra lekat-lekat, baru menyadari betapa wajah tenangnya menyimpan begitu banyak luka yang tak pernah dia pamerkan.

“Besok kita mainkan drama ini bukan cuma buat santri atau tamu,” kata Azzahra lirih. “Tapi juga buat diri kita sendiri. Supaya kita tahu, kita bisa belajar ikhlas... meski rasanya sakit.”

---

Fajar Iduladha datang dengan udara dingin dan harum tanah basah. Halaman pesantren berubah jadi lautan putih mukena dan baju koko. Setelah salat, pertunjukan kecil itu dimulai. Yazid berdiri di depan, mengenakan jubah putih dan ikat kepala. Di sampingnya, Azzahra berdiri tenang, seolah benar-benar Hajar dari ribuan tahun lalu.

Suasana sunyi saat Yazid melafalkan dialog terakhirnya. “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan padamu. Aku ikhlas... karena Allah.”

Tangannya gemetar. Tapi suaranya bulat dan penuh perasaan. Sejenak, Yazid merasa benar-benar menjadi Ismail. Bukan karena perannya, tapi karena ia tahu rasa kehilangan, tahu pahitnya menyerahkan yang paling dicinta. Dan saat itu, ia pun merasakan seberkas kelegaan—karena untuk pertama kalinya, ia tak menolak rasa sakit itu. Ia menerima.

Pertunjukan selesai, dan tepuk tangan memenuhi halaman. Tapi Yazid tak terlalu peduli. Ia melihat Azzahra tersenyum kecil padanya, dan senyum itu cukup menghangatkan pagi yang dingin.

Setelah pemotongan hewan kurban, para santri membantu membungkus dan membagikan daging. Yazid ikut mengantar ke kampung sekitar. Saat berjalan di antara rumah-rumah sederhana, ia melihat anak-anak kecil menyambut mereka dengan tawa. Tiba-tiba Yazid merasa ringan. Bukan karena ia sudah sembuh dari luka, tapi karena ia tahu luka itu tak harus ia simpan sendiri.


Di sore hari, Yazid duduk di bawah pohon kamboja bersama Azzahra. Mereka berbagi sate hangat, dibakar oleh para santri lainnya.

“Aku ingin setiap Iduladha nanti bisa seperti ini,” gumam Yazid.

“Penuh rasa kehilangan?” tanya Azzahra setengah menggoda.

Yazid tersenyum. “Penuh rasa syukur. Karena ternyata Allah tak benar-benar mengambil segalanya. Dia menyisakan cukup... agar aku tetap bertahan.”

Langit senja menaungi pesantren dengan warna keemasan. Takbir masih terdengar samar dari kejauhan. Dan di antara detik yang hening itu, Yazid tahu: ia telah belajar makna kurban, bukan hanya lewat kisah, tapi lewat hidupnya sendiri.

Story dan ilustrasi: chatgpt

Komentar