Angin tua membenturkan satu sisi daun pintu ke sisi lainnya. Lekat. Meski slot pengunci belum sempurna mengunci dan setengah menggantung pada rumah pelindungnya. Dentuman cukup keras, tapi tidak mengubah fokus peserta ujian kepada lembaran kertas berisi soal pilihan ganda. Menoleh dua detik dan fokus kembali.
Suara-suara mulai riuh mempertanyakan undangan penting yang tidak bisa diabaikan pula.
"Bagaimana? Kita kesana jam berapa? Sesuai jadwal mengawaskah?" Bu Chef mulai bertanya-tanya.
"Mana mungkin? Waktunya tidak akan cukup." Timpal Bu Gemoy merespon cepat.
"Kalau begitu nitip saja. Yang ini penting dan yang di sana amanat undangan. Diusahakan semuanya." Tambah yang lain lagi.
Aku menutup map hijau penyimpan berkas. Tersenyum menyimak percakapan kecil berkonflik kecil. Setidaknya memicu pemikiran untuk berpikir. Membagi waktu agar begerapa kegiatan berjalan di waktu yang sama.
"Ini benar ruang dua puluh dua, Bu?" Tanya peserta yang baru saja datang tergopoh. Di dada kanan jaketnya tertera train dispatcher assistant, operator sekaligus pengatur jadwal kereta api dari KAI. Masih muda.
"Alhamdulillah, silakan. Saya kira sampean lupa jalan menuju ruang ini." Aku mencoba mencandai agar keterlambatannya tak membuatnya gugup.
Pemuda itu mulai menuliskan pernyataan bahwa seluruh isian adalah benar-benar hasil pemikirannya pribadi. Bukan hasil sewa joki atau contekan. Berpikir serius dan mulai membulatkan lembar jawaban ujian dengan ujung arang hitam pensil. Ini adalah sesi ketiga mata uji yang diikutinya sejak pagi.
Tak lama berselang, lingkaran putih dengan lima alfabet di dalamnya sudah menghitam. Mungkin semalam ia belajar dengan sungguh-sungguh atau bisa jadi ia fokus ketika dosen menjelaskan materi kuliah sehingga lekat ilmu dalam kepala dan benaknya sehingga lancarlah menjawab setiap tanya di sana.
Sesekali ia mengangkat kepala. Mengingat dan mereka sesuatu dalam akalnya.
Dua orang mendekat. Dalam waktu kurang dari empat puluh lima menit, keduanya menyelesaikan seluruh soal yang diberikan.
"Permisi, Bu. Sudah." Mereka menyodorkan lembar soal dan jawaban dengan santun.
"Sudah selesai?" Retorikaku terbit spontan berbonus senyum yang paling manis. Alhamdulillah, batinku. Jika semua dimudahkan dalam menyelesaikan soal. Setidaknya awalan doa yang selalu kutawarkan di awal waktu sejak sesi satu berhasil. Lancar.
Pukul 14.14 WIB. Satu menit menuju batas akhir selesainya waktu pengerjaan soal. Pengawas berkumpul di hall untuk menerima pengarahan terakhir.
"Ada mobil." Bu Gemoy mengusirku dari nikmat lamunan.
"Bagaimana?" Aku tergagap.
"Jadi ikut atau tidak?" Bu Gemoy memainkan ujung taplak meja.
"Ikutlah. Berangkat sekarangkah?" Aku mengemas berkas dan merapikannya kedalam map.
"Sudah siapkan amplop dan isinya?" Dikibaskannya amplop berwarna putih polos bertuliskan "Gemoy" di bagian ujung atas amplop.
"Sudah. Tapi tanpa nama." Kami melangkah menuju hall dan segera cuzz ke manten baru.
Ilustrasi: Chat GPT

.png)
Komentar
Posting Komentar
Kirim pesan terbaik Anda untuk pengembangan situs ini!