Malam meninggalkan angka sepuluh atau dua puluh dua dalam versi dua puluh empat jam. Lebih tujuh belas menit tepatnya. Sirkulasi makanan dalam perut belum sempurna terurai. Nutrisinya belum mengalir sepenuhnya dalam aliran darah.
Bulu mataku belum terlalu berat. Kegiatan scrolling tak lagi mengasyikkan. Lalu apa? Membaca beberapa literatur digital, jenuh. Scrolling instagram, menemukan vibrasi positif melalui hipnotherapy. Sugesti positif. Kuikuti, kuulangi, kuamini. Kubenamkan dalam hati dan kepala, kuamini kembali.
Kujelajah surel-ku.
*
Malam menjadi siang, terik menjadi teduh, gelap menjadi terang bagi detektif yang melegenda ini. Tokoh fiktif setengah nyata yang detail penuh ketelitian tanpa ujung dan kepuasan pada satu hal saja. Rasa ingin tahu didukung rasionalitas dan sistematika berpikir yang selalu dapat dipertanggungjawabkan menjadikan jiwa tokoh senantiasa hidup di benak pembaca atau pirsa versi filmnya.
Termasuk buku yang baru saja kututup bagian akhirnya. Sherlock Holmes dalam A Study In Scarlet, Penelusuran Benang Merah. Sebuah dendam kesumat yang melibatkan unsur rasial, keyakinan, dan wanita. Tiga unsur yang sama-sama sensitif di masanya. Plot twist yang dikemas sedemikian rupa hingga menjadi alur campuran dengan mendiktekan teka-teki pembunuhan tanpa sentuhan langsung. Racun!
Perpaduan ilmu biologi dan farmasi yang diramu dengan pembuktian cinta sampai mati atau mematikan (baca: membunuh) membuat alur campuran dalam cerita menjadi terlalu hidup dan mengusik kepala yang tidak terlalu cerdas. Namun, kebingungan akan terobati saat Bab Tanah Suci mulai dimasuki.
Dari sana, pembaca atau pemirsa mulai manggut-manggut menemukan titik awal sesungguhnya dalam cerita. Fanastisme yang menyebabkan perpecahan dan pengkafiran kelompok oposisi menyebabkan kisah ini semakin berwarna dan kompleks. Namun, semua menjadi sangat sederhana manakala tokoh pendendam, pembunuh buron, sekaligus pahlawan utama adalah pemeran yang sama dalam cerita.
*
Sesederhana cinta anak remaja yang berakhir tak bahagia karena kawin paksa dan dampaknya kepada psikologi perempuan. Cinta berbalas berujung dendam melintas waktu dan benua. Kecerdasan dan keberanian yang timbul melebihi batas logika karena tuntutan berpikir dalam strategi penghilangan nyawa yang didesain unik. Meskipun campur tangan Tuhan selalu menyertai dalam realitanya.
Ujung kematian cantik yang lebih familiar disebut syahid karena cinta menjadi penghujung cerita yang sempurna. Namun bukanlah Sherlock Holmes jika tak mengedepankan rasional, ketelitian, logika dan sistematika pemikiran yang selalu linier dengan jalan pemikiran ilmiah. Selalu searah, atau diarahkan lebih tepatnya. Menjadikan Holmes seorang tokoh yang perfeksionis dengan tingkat ketelitian melebihi seribu persen.
Intinya, jika sepersekian persen saja, jiwa teliti, tak mudah menyerah, dan hampir selalu mencapai targetnya membuat tokoh Holmes patut dijadikan teladan dalam dunia literasi. Holmes mencontohkan jiwa tenang yang tidak mudah terpengaruh distraksi sekitarnya dengan tujuan utama, satu. Mencapai targetnya. Meskipun secara literatif disebutkan secara tersurat bahwa Holmes telah menyimpulkan tokoh sasaran di adegan-adegan awal. Namun fiktif tak akan nyata, bila semua dikuak di awal cerita. Maka kisah fiktif Holmes dikemas sedemikian indah agar pembaca ikut memainkan emosinya dan larut dalam kembaranya.
Ilustrasi: pribadi




Komentar
Posting Komentar
Kirim pesan terbaik Anda untuk pengembangan situs ini!