Lentera Tua dan Nyala Apinya


Seperti biasa, jalan diisi oleh gadis-gadis kecil usia delapan atau sembilan tahun. Mengadakan pertemuan kecil dengan isi pembahasan pelajaran yang disampaiakan beberapa hari yang lalu dan ditugaskan. Kali ini halaman 41 dan 48 menjadi objek kajian. Memberikan apresiasi kepada guru kelas yang telah menjelaskan halaman 48 dengan begitu lengkap dan jelas. Berbeda halnya dengan halaman 41 yang tidak begitu mereka pahami. 

"Aneh ya! Padahal halaman 41 lebih sulit!"

"Tapi memang penjelasannya lebih mudah, sehingga nempel di sini." Terang gadis berkuncir memegang keningnya sambil duduk lebih tinggi dari kawan-kawannya. 

"Ya, sepertinya kita yang kurang perhatian di halaman 41 sehingga kita tidak nyambung." Timpal gadis berbaju bunga. 

*

Gelas ini pada dasarnya sudah bersih. Tapi kucuci ulang karena tutupnya berjamur. Kuyakin kau suka saat menyesapnya. Bukan hanya karena cintamu pada ungu, tetapi karena isi kandungan di dalamnya tak akan pernah tergantikan. Tak akan pernah terlupakan. Oleh setiap sel darah dalam tubuhmu. Atau napas yang tak pernah kau peroleh, kecuali bersama kecintaanmu. 


Asapnya masih menggantang. Warnanya yang muda kebiruan berubah lebih pekat saat kubiarkan bunganya merasuk mengubah warna bening dalam gelas. Seperti itu kasihmu. Makin pekat. Kebiruan. Hangat dan tak berubah. Satu dan lain hal yang menjadikannya makin berwarna dan kadang menyakiti. Di sanalah cinta. Di sanalah kasih. Kau, kita tak berdaya. Namun dunia terus berjalan. 

Ia hanya ada bagi yang bertahan. Namun ia hidup bagi yang berjuang. Dan segala cara tlah kau lakukan. Mulai meninggalkan milikmu agar dapat kembali kepada manusia bernama rumah hingga berdusta demi mempertahankannya. 

Seperti biasa pula kau selalu bertarung dengan hati. Setengah meninggalkan atau sepenuhnya meninggalkan. Meyakinkan diri yang mwnjadi milikmu takkan kemana-mana, sedang yang bukan akan hilang meski penjagaanmu sekelas bodyguard presiden. Ya, mestinya begitu. Kilahmu dalam hati. 


Ia makin biru. Menunggu sesapan demi sesapan menandaskan tetes terakhirnya. Begitu kaya, begitu melimpah. Dalam satu waktu dimilikinya berbagai kenikmatan. Bahkan pandan setengah matang yang menelikung singkong setengah empuk yang belum digulai. Sedapnya sudah begitu menggoda. Padahal hanya faktor air mendidih, potongan pandan, udara dan gerakan yang mendorongnya. Menjadikan aroma yang setengah mati menghidupkan saraf otak. Menikmatinya. 

*

Aku berhamdalah. Masih hidup dalam lingkaran manusia dan segala imajinya menuju hidup sesungguhnya. 

Ilustrasi: pribadi

Komentar