Lentera Tua dan Nyala Apinya


Bagian 2

Lelaki itu mencermati layar gawainya kembali. Menekuni tayangan demi tayangan yang berlalu lalang di layar. Sesekali tertawa terkekeh kala saraf tawanya tersentuh tema dalam kaca. Ada kegalauan dan gelisah yang tak bernama singgah dalam hatinya. Namun, urung di mukanya karena celoteh kambing dan anjing berebut tuannya. 

"Saat kami bertengkar, ia akan abaikan semua dan masih bisa tertawa terkekeh sendiri. Tak peduli perasaan saya yang marah." curhat perempuan bernama Hannah itu mengisahkan perilaku suaminya. 

Kini di hadapanku, ku tahu, ia terkekeh karena menangkap kesedihan, memahami luka dan perasaan. Namun, ia tak berdaya mengubah. Bahkan hatinya sendiri telah tergadai. Dan ia tak paham seberapa mahal ia menggadaikannya. Indah namun luka. Tersiksa namun makin mendera tanpa salam dan datang begitu saja. Dadaku ikut gaduh. 

*

Susu hangat ukuran kecil diseduh dengan beberapa tetes madu pekat berpadu dengan gurihnya susu yang telah dipasteurisasi. Ditaburkan lada hitam untuk menajamkan rasa dan penghangat badan. 

"Rupanya perempuan peminum juga kau ini, ya?" Candanya padaku. Membuatku terkekeh hingga gigi gerahamku nampak dari permukaan. 

"Antara pertanyaan, sanjungan dan hinaan, itu...." Candaku, mencoba mengimbangi guyonan sahabat lamaku ini. Ia tertawa. Kami tertawa. Saling menertawakan satu dengan lainnya, tanpa perasaan jngin menyakiti atau menabur hina dalam tiap ucapan satu sama lain. Hanya obrolan sepasang teman. 

"Pelengkapnya pun oke. Pisang goreng hangat dan beberapa jenis pilihan lainnya yang cukup dapat membuat perut kenyang." Ia menghabiskan hampir tiga biji pisang goreng. Berkebalikan denganku. Gumam kepalaku. Jika ada bagian kulit tepung dari pisang goreng, aku akan memilihnya. Rasa manis dan asam yang kadang pecah di lidah memberiku sensasi berbeda ketika memakannya. Bahkan mual juga setiap kupaksakan makan hingga habis sebuah saja. Cukup aneh menurut sebagian pecinta pisang goreng. 

*

Pelana kuda siap membantuku melenggang. Mencobai perihal lama yang ingin kujajal kembali. Berkuda. Meski tidak sendiri. Biar sais membantuku menjadi pengendali utama. 

Ilustrasi: pribadi

Bersambung

Komentar