Bulat bundar menyala di sana. Seharusnya aku tak acuh saja. Tidak perlu lagi memikirkan dengan siapa saja kini ia bicara. Agaknya pembicaraan dalam chatting whatsapp tak lagi aman karena terlalu sering membuat mereka tertangkap basah. Dan kali ini, ia menemukan modus baru untuk bicara di dunia maya tanpa takut diketahui.
Bukan Aria namanya jika tak tahu segalanya. Sebab ilmu atau ngelmoni, istilah orang Jawa dahulu. Bukan ilmu weruh sakdurunge winarah, juga bukan sekadar sok tahu. Ia benar-benar memahami modus operandi sepasang laki-perempuan nonmahram itu. Memejam sebentar. Mengucap istighfar dan diam.
Jarak tak menyurutkan syaitan untuk menyambungkan laki-perempuan tanpa ikatan. Mereka sedang bermain api. Agaknya cukup menikmati sautan panasnya yang bukan hanya menggoda, tapi menagih untuk lagi dan lagi.
Saat bercakap, mereka akan menghabiskan waktu berjam-jam. Kebahagiaan semu yang mereka ciptakan untuk kerapuhan hati yang tak mungkin terjaga. Dua anak manusia hampir paruh baya yang sedang mengagumi satu sama lain dan sangat berbahaya. Ironisnya, bekal agama yang dienyam sejak bangku sekolah dasar hingga masa tua menjelang gelar tertingginya menjadi semacam penunjang ptofesi agar titel bermodal mahal tetap mengepulkan asap dapurnya. Entah bagaimana akhirnya, halal-subhatnya.
"Bagaimana cara salat tahajud, Ustadz?" Tanya perempua itu dalam DM instagramnya.
"Perlu dijelaskan agak panjang, Bu." Sahut lelaki berjuluk ustadz di luar sana.
"Saya nganggur, Ustadz. Bisa sampai jam berapa pun. Besok juga bisa." Kemandirian seorang istri yang tidak terlalu banyak bertanya seolah menggugah jiwa "gagah" dan "pahlawan kemalaman" dalam sejarah perkembangan lingkaran setan manusia-manusia ketiga.
Lelaki yang kerap menyebut dirinya ustadz merasa terpanggil untuk memenuhi kehausan informasi tentang tata cara salat malam yang dibutuhkan perempuan di seberang sana. Namun sedikit janggal, jika alumni madrasah aliyah dan pondok sebesar As Saba menelurkan santriwati sekelas perempuan itu tetapi tak paham tata cara salat lail. Peluang tergenapi.
Analogi matematika dari ranah yang berbeda tetapi sinkron dalam konteks yang sama. Perempuan mencoba memprediksi pelaku abuse berdasarkan pola kejadian. Ia menggunakan peluang berdasarkan data kejadian sebelumnya, dan modus operandi (cara pelaku beraksi). Sebaliknya pihak lelaki yang kurang perhatian dan tidak maksimalnya penyaluran birahi membuat mereka klop. Kombinasi keduanya membantu menentukan kemungkinan kejadian berikutnya. Peluang dan modus operandi.
21.21 WIB, tiga puluh satu menit, sejak ia tinggalkan jejak sosial di media melalui story berkebalikan dengan realita.
Ilustrasi: pinterest
Bersambung

Komentar
Posting Komentar
Kirim pesan terbaik Anda untuk pengembangan situs ini!