Siang tadi di sebuah acara perhelatan sastra. Karena ketetapan Allah, diduetkan seorang guru dan seorang dosen muda. Dua pendidik dan jembatan ilmu pengetahuan di strata yang berbeda. Perbandingan usianya di kisaran 1:¾. Seorang dosen muda berusia kepala dua dengan kesempatan berkarir sebagai dosen tetap non-ASN di sebuah universitas negeri termuka.
Dari perkenalan hingga jeda rehat menjuri. Membuat waktu begitu iseng mempertanyakan sesuatu.
Dan inilah pertanyaannya!
"Sudah sertifikasi, Dik?"
Sang dosen muda menjawab belum. Bahkan ia tertarik untuk menjelaskan ada dua proses yang harus dijalani untuk menambahkan angka dalam apresiasi bulanan sebagai dosen.
1. Pelatihan Pekerti (Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional)
Wah apa ini, pikirku!
Ternyata PEKERTI adalah program pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan kompetensi pedagogik dosen, khususnya dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran secara efektif. Program ini menekankan pada kemampuan mengajar, menyusun RPS (Rencana Pembelajaran Semester), serta penggunaan pendekatan pembelajaran aktif dan berbasis mahasiswa yang ditempuh dalam waktu kurang dari satu bulan.
Pelatihan ini merupakan prasyarat penting untuk mengikuti sertifikasi dosen (serdos). Menjadi bekal awal dalam menjalankan tugas-tugas pendidikan secara profesional. Membantu dosen memahami filosofi pendidikan tinggi, etika profesi, dan prinsip pembelajaran dewasa.
2. Asistensi Ahli
Bukankah dosen sudah ahli?
Asistensi Ahli adalah proses pendampingan atau pelatihan lanjutan yang melibatkan dosen senior atau ahli dalam bidang tertentu untuk membimbing dosen muda dalam meningkatkan kompetensi tridharma perguruan tinggi (pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat).
Fungsinya membantu dosen muda dalam mentoring akademik dan profesional, termasuk penulisan karya ilmiah, teknik evaluasi pembelajaran, dan kegiatan pengabdian. Dapat menjadi penguat portofolio yang dibutuhkan dalam proses sertifikasi. Serta menjadi ajang refleksi dan pengembangan diri, agar dosen mampu memenuhi standar nasional pendidikan tinggi.
Dari proses memerolehnya agaknya mudah, namun untuk mempertahankannya ada beberapa persyaratan terkait produktivitas karya selama berkarir.
Bagaimana menurutmu? Calon peserta pendidikan profesi guru yang telah menekuni dunia pendidikan? Mau yang bagaimana? Lama di proses atau tangguh bertahan?
Ternyata apresiasi pendidik di jenjang berbeda pun berbeda tantangannya ya.
Salam produktif dalam karya!
Ilustrasi: Dokumentasi Pribadi

Komentar
Posting Komentar
Kirim pesan terbaik Anda untuk pengembangan situs ini!