Hari Selasa


Kisah siang menjelang sore ditaburi pekatnya mendung di atap langit. Gelap. Hitam. Berarak merata, menata tanpa henti, menyiapkan tubuh untuk dijatuhkan. 

"Besok hari apa, Bu, kok ada upacara?" pertanyaan yang menyayat hati sekaligus membuat geli. Pedih di hati tapi juga menggetarkan saraf tawa. 

"Hayooo, besok hari apa? Mengapa sekolah mengadakan upacara?" Suaraku tertahan. 

"Besok Hari Selasa, Bu." Begitu jawab mereka polos. Pedih makin menjadi. Generasi emas Indonesia di hadapan mata. Entah lupa atau benar-benar tak tahu kisah sejarah. Bagaimana tanggal dua puluh mei diperingati pada umumnya. 

Yang ditanya panik. 

"Bagaimana? Masih perlukah kita panggil guru sejarah atau pendidikan pancasila kita untuk mengingatkan?" Selorohku, hanya ingin menelusuri kealpaan gen milenial. 

"Ahhh... Kebangkitan nasional, Buuuu!!!! " Mereka kompak menjawab. Rupanya Mbah Google kembali berjasa mengingatkan pemuda-pemuda pilihan bangsa. 

Aku lega. Setidaknya ada bekas yang akan mereka ingat untuk esok hari ketika mengikuti upacara. Bukan sekadar Hari Selasa. 

Ilustrasi: shutterstock. com

Komentar